Posts

Inikah namanya cinta.... // Layla Majnun - 2021 (Spoiler Alert)

Halo semuanya! Setelah seharian berkutat sama kerjaan, sore tadi saya memutuskan untuk nonton Layla Majnun di Netflix. Awalnya tergoda karena nama Layla Majunin ini pernah bersinggungan dengan Buya Hamka (saya lagi baca bigorafi beliau, mungkin akan ada reviewnya di blog). Film Layla Majnun garapan Monty Tiwa dan tim ini diadaptasi dari karya Nizami Ganjavi, sastrawan muslim Azerbaijan abad ke-12. Saya pribadi belum baca novelnya, tapi setelah nonton ini jadi tertarik untuk baca. Cerita Layla Majnun digambarkan dengan sederhana tapi begitu dalam dengan persoalan pelik yang dalam realita memang enggak bisa diselesaikan hanya dengan bilang "Iya atau enggak". Dimulai dari bagaimana Layla Mashabi (Acha Septriasa) wanita kelahiran desa di Semarang dengan wawasannya yang luas percaya bahwa setiap wanita bisa memilih jodohnya masing-masing. Saya enggak menampik gimana di daerah-daerah Indonesia perjodohan seperti yang dialami Layla masih lazim dilakukan.  Pada akhirnya, wanita seman...

Daripada Sakit Gigi, Lebih Baik Sakit Hati Ini (Bukan Meggy Z)

Image
Halo semuanya! Walaupun enggak ada yang mendingan ya antara sakit gigi sama sakit hati, tapi kalau harus di mendang-mending saya lebih setuju sakit hati lebih mending daripada sakit gigi. Kalau sakit hati kita masih bisa makan ( at least saya sih, yang kondisi sedih juga masih bisa makan sambil nangis), kalau sakit gigi kita enggak bisa makan dan justru bikin sakit hati.  Jadi ini cerita, tentang tumbuh dewasa itu juga datang dengan masalah gigi. Mulai dari masalah gigi bungsu tumbuh miring, sampai terancam pakai gigi palsu. Sakit gigi perdana saya itu waktu kuliah semester dua. Entah kenapa hari itu rasanya kepala cenat-cenut enggak bisa mikir, gigi rasanya keteken, sambil nenteng kanvas segede gambreng ukuran 100 x 70cm saya kemudian duduk di bangku kampus. Keluarin HP, ngadu ke mama via WhatsApp. Besok sorenya saya check-up ke dokter dan ditemukanlah bolong di gigi graham. Melihat ukurannya yang masih bisa ditambal, akhirnya dilakukan tambal gigi.  Saya pikir masalah gigi ...

Cerita #5

Halo semuanya! Saya mulai nulis pukul 20.48 WIB. Bisa dibilang Sabtu yang chill sambil dengerin lagu-lagu Keshi. Saya rada bersemangat nih, karena abis minum kopi. Jadi, kembali lagi ke seri Cerita. Hari ini saya mau tulis cerita bagian 5, tentang kejadian-kejadian yang menurut saya unik atau aneh yang pernah saya alamin yang kadang enggak ada faedahnya, saya tulis biar inget aja. Hari ini ada tiga cerita bertema masa sekolah. 1. Surat Cinta untuk Orang Tua Dulu saya pernah SD 6 tahun. Kegiatan saya setiap pagi adalah sarapan apa aja yang ada sambil nonton Spongebob kemudian salim ke Ibu, dan berangkat membelah jalan Jakarta dianterin Bapak. Dengan perasaan bahagia saya berangkat ke SD di pinggiran Jakarta Selatan (anjay JakSel.) Kenapa enggak sekolah deket rumah aja di daerah Barat? Wah saya enggak tahu deh, itu udah keputusan orang tua. Kami suka dengerin radio Gen FM yang dulu seinget saya penyiarnya Kemal sama satu cewek, kocak banget. Saya inget pernah dengan bangga mendengar nama...

Memaknai Kuliah S1 Desain

Image
Halo semuanya! Sekarang pukul 23.14 WIB, agaknya udah tiga jam Jakarta diguyur hujan. Hari ini cukup ramai, baik pikiran saya maupun lingkungan fisik, hehehe. Sore tadi sekitar pukul 16.00 WIB, Banten mengalami gempa dengan kekuatan magnitudo 6, alhasil daerah-daerah sekitarnya juga ikut merasakan. Alhamdulillah tidak berpotensi tsunami dan tidak ada gempa susulan. Menjelang tengah malam ini, saya ingin menuliskan rasanya jadi sarjana. Kilas balik dikit, saya masuk kuliah Agutus 2017 dan menyelesaikan pendidikan pada Januari 2021, namun secara resmi lulus dari kampus pada Juli 2021.  Awalnya saya menjalankan kuliah karena tanggung jawab sebagai anak. Bagi saya kuliah adalah hal biasa yang harus saya jalani sebagai bagian dari keluarga yang hampir semuanya merupakan lulusan universitas. Tujuan saya adalah mengikuti arahan orang tua menyelesaikan studi dan lulus tepat waktu. Kendati begitu, saya menyadari enggak semua orang punya kesempatan seperti saya. Melanjutkan ke bangku ku...

Naksir Orang di Weekend

Halo semuanyaaa Check-in dulu, sekarang jam 09.43. Naksir orang, udah lama saya enggak ngerasain hal kayak gitu. Terakhir SMA (empat tahun lalu), tiba-tiba tahun ini  muncul orang yang menarik bagi saya. Menarik karena saya bingung, naksir dalam artian jatuh cinta atau sekedar kagum? Lucu juga hal-hal kayak gini lebih berasa pas weekend. Sambil set mood gitu ya kan, liatin fotonya, dengerin lagu-lagu jatuh cinta, kalo sempet baca-baca puisi Aan Mansyur atau Sapardi atau Joko Pinurbo, terus dapet inspirasi nulis.  Enggak sengaja liat postingan temen tentang puisi Aan Mansyur dari bukunya, "Tidak Ada New York Hari Ini." Keinget pernah punya satu kemudian nyari di rak buku dan ketemu. Tahun 2016 kado ulang tahun dari teman saya. Baca-baca isinya ngeliatin apa yang saya highlight, saya tulis, sambil keinget ini buku juga yang nemenin saya waktu naksir orang jaman SMA. Tetap relate sama yang saya rasain sekarang. Ternyata saya enggak banyak berubah, tetap belum belajar caranya...

Tere Liye - Janji (Spoiler Alert)

Halo semuanya!  Di selasa malam yang pagi ini (jam 19.25), saya pengin cerita pengalaman baca Janji, buku dari penulis favorit saya, Tere Liye. Buku ini saya beli bulan lalu di Mal Kelapa Gading. Entah kenapa setiap liat buku Tere Liye merasa harus beli dan baca karena enggak pernah mengecewakan. Saya kenalan sama buku Tere Liye sejak SMP, waktu itu sempat minjem dari teman buku beliau yang judulnya "Ayahku (Bukan) Pembohong". Itu jadi novel pertama yang bikin saya nangis selama pengalaman membaca buku. Lanjut ke Janji.  "Kita semua adalah pengembara di dunia ini. Ada yang kaya, pun ada yang miskin. Ada yang terkenal, ternama, berkuasa, juga ada yang bukan siapa-siapa. Ada yang seolah bisa membeli apapun, melakukan apapun yang dia mau, hebat sekali. Ada yang bahkan bingung besok harus makan apa.  Tapi sesungguhnya di manakah kebahagiaan itu hinggap? Di manakah hakikat kehidupan itu tersembunyi? Apakah seperti yang kita lihat dari luar saja?  Inilah kisah tentang janj...

Cerita #4

Halo semuanya! Saya mulai nulis jam 20.04, abis hujan suasananya adem. Saya lagi makan Sosis Kanzler Keju, rada kecewa kejunya cuma seiprit di ujung-ujung, tapi enggak papa sih karena enak. Jadi, kembali lagi ke seri Cerita. Hari ini saya mau tulis cerita bagian 4, tentang kejadian-kejadian yang menurut saya unik atau aneh yang pernah saya alamin yang kadang enggak ada faedahnya, saya tulis biar inget aja. Hari ini ada tiga cerita bertema angkot.   1. Per-Sohiban Dunia Angkot Seperti yang udah pernah saya ceritakan, kalau dulu selama enam tahun saya selalu naik angkot untuk pulang. Ini cerita jaman SMP ketika saya selalu naik angkot biru, yang melatih saya memiliki jiwa penyabar dan tahan PHP. Jadi, untuk sampai rumah, saya harus naik angkot biru M-XX ke arah Pasar A. Satu aja, enggak harus sambung angkot. Enak, kan? Tinggal setop, naik, ketawa-ketawa di angkot, sampe rumah, tepar. Tapi, untuk naik angkot ini ternyata sesulit mencari jarum dalam jerami. Pertanyan andalan saya ...